Membangkitkan Kembali Pengobatan Nabawi

OBSESI Didi Rudita, praktisi pengobatan nabawi, sangat besar. Dia ingin pengobatan nabawi yang pernah dipraktikkan Nabi Muhammad dan para sahabatnya benar-benar bisa tumbuh di bumi Indonesia, setidaknya di Jawa Tengah. Tidak hanya menyangkut praktik pelayanan kepada masyarakat yang ingin tetap hidup sehat, tetapi juga pengembangannya dengan mendidik banyak orang untuk memahami dan bisa mempraktikkan pengobatan nabawi. Baginya, pengobatan nabawi bukan hanya berkait dengan kesehatan masyarakat, melainkan juga syiar Islam.

”Dengan pengobatan nabawi, masyarakat bisa memperoleh cara penyembuhan penyakit yang tidak melanggar ajaran Islam. Misalnya, obat-obat yang dikonsumsi tidak mengandung zat-zat yang diharamkan. Selain itu tetap berlandaskan pada akidah Islam. Ini penting, sebab sekarang ini terdapat praktik-praktik pengobatan yang cenderung syirik seperti menggunakan kekuatan jin,” kata Rudita saat meresmikan pembukaan tiga Klinik Bashthotan Holistic Center di Semarang akhir pekan lalu. Ketiga klinik tersebut beralamat di Jl Mlaten Trenggulun 66, Jl Kedungmundu Lama 3-B, dan Jl Medoho Raya 26.

Rencananya, dalam tiga tahun ke depan di semua kecamatan se-Kota Semarang bisa dibuka klinik yang sama. Setelah itu membukanya di berbagai daerah se-Jawa Tengah. Dalam jangka panjang mendirikan rumah sehat (pengganti istilah rumah sakit) yang pelayanannya menggunakan metode pengobatan nabawi. Program lain yang terintegrasi adalah pendirian perguruan pengobatan nabawi dan pengembangan ekonomi umat lewat usaha bidang obat-obatan.

”Sekarang ini kami baru bisa membuka pelatihan-pelatihan, workshop, ataupun seminar. Ke depan kami akan membuka lembaga pendidikan formal program D1-D3. Entah kapan bisa direalisasi, tetapi kami yakin pada saatnya dapat terwujud,” tambahnya.

Untuk pelaksanaan program-program tersebut dia bekerja sama dengan sejumlah dokter, diantaranya dokter Eka Kartika dan dokter Ratri Cahyono. Bahkan direncanakan pula bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unissula.

Penyakit Mag

Dokter Arief Nurudhin pun mendukungnya. Dia, yang pernah mendalami pengobatan Timur, termasuk pengobatan nabawi di Amerika Serikat, Australia, dan Malaysia, semula merasa sendirian. Dia memandang di Semarang tidak ada orang yang tertarik mengembangkan pengobatan nabawi. Ternyata, apa yang ditemukan lain. Gerakan pengobatan nabawi di Semarang sudah berjalan jauh, bahkan serentak telah membuka tiga klinik.

”Karena itu saya mohon maaf atas prasangka buruk kepada orang Semarang. Saya pun mendukung penuh gagasan pengembangan pengobatan nabawi ini,” ujarnya, seraya menyatakan dia merasa terharu atas tekad besar Yayasan Bashthotan yang menaungi klinik-klinik holistic tersebut.

Sebab, di negara-negara Barat yang umumnya nonmuslim justru praktik pengobatan nabawi telah berkembang baik. Buku-buku tentang pengobatan nabawi banyak diminati. Sebagian isi buku dikutip dari buku-buku pengobatan nabawi zaman abad pertengahan, seperti masa Dinasti Abasiyah.

Banyak cara hidup sehat Nabi Muhammad yang kini mulai dikembangkan di Barat. Nabi tidak makan sebelum lapar dan kalau makan berhenti sebelum kenyang, sekarang menjadi slogan hidup sehat di Barat.

Karena itu, dokter Arief tidak yakin penyebab utama orang sakit mag adalah sering terlambat makan. Sebab, jika terlambat makan menyadi penyebab utama, tentu Nabi Muhammad akan terkena penyakit mag. Kenyataannya, Nabi tidak pernah berpenyakit mag. Padahal, Nabi sering terlambat makan. Bahkan, kadangkala melebihi batas wajar. Supaya tidak terasa lapar dia mengganjal perutnya dengan batu. Toh Nabi tidak pernah sakit mag. Ahli pengobatan yang mendampinginya ketika itu sampai heran atas kesehatan Nabi. Ini tidak lain karena pola makan Nabi sangat baik.

Contoh pola makan yang baik Nabi adalah ketika makan daging selalu disertai cuka. Maksudnya, kandungan lemak dari makan gading yang nantinya bisa berakumulasi menjadi racun dapat tercegah dengan asupan yang masam-masam. Pola ini sering tidak diperhatikan masyarakat modern kita. Akibatnya orang mudah terkena penyakit akibat kelebihan lemak dari makanan yang dikonsumsinya.

”Banyak hadis Nabi yang mengungkapkan cara hidup sehat. Selayaknya kita, umat Islam, mengembangkan cara hidup sehat seperti dipraktikkan Nabi dan sahabatnya yang sekarang justru berkembang baik di Barat.”

Dokter Arief menunjuk rumah sakit yang menggunakan metode pengobatan nabawi di Purwakarta, Jawa Barat dan pernah dia kunjungi. Rumah sakit itu dipenuhi pasien. Bahkan, pasiennya sampai harus antre untuk memperoleh pelayanan pengobatan. Maka, dia yakin apa yang dilakukan Yayasan Bashthotan di Semarang akan tumbuh baik, bahkan bisa menyebar ke semua wilayah di Jawa Tengah.

Yang penting, menurutnya, kualitas pelayanan harus dijaga dengan baik sehingga akhirnya masyarakat menaruh kepercayaan. Sebab, kepercayaan pasien/masyarakat merupakan modal utama dalam pelayanan pengobatan. Mereka yang belum menguasai ilmu pengobatan nabawi jangan melakukan praktik-praktik yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, yang nantinya bisa merusak kepercayaan masyarakat.

Amanah dan Profesional

Sependapat dengan dokter Arief, Rudi juga menekankan klinik dan para praktisi pengobatan nabawi (terapis) dalam menjalankan tugasnya haruslah amanah dan profesional. Amanah, artinya pengobatan yang dilakukan harus dipertanggungjawabkan secara moral kepada Allah maupun masyarakat. Ada pun profesional, maksudnya pengobatan harus dijalankan sesuai dengan prosedur keilmuan.

”Ini penting karena pengobatan nabawi juga membawa misi spiritual. Yakni meneladani hidup Nabi dan hal ini diperintahkan oleh Allah,” tambahnya.

Ada empat pendekatan yang dilakukan dalam pengobatan nabawi, yakni segi fisik, spiritual, emosional, dan mental. Dalam pengobatan nabawi, yang disembuhkan bukan hanya fisik saja, melainkan juga ruhnya, yang mencakup emosi, mental, dan spiritual. Ketiga unsur itu saling berkait, dan pengobatan nabawi mencakup seluruhnya (secara holistik).

Contohnya, kesembuhan suatu penyakit tidak saja ditentukan oleh obat yang dikonsumsi, tetapi juga keyakinan pasien akan kesembuhan dari sakitnya. Maka, Nabi selalu memberikan pengharapan besar kepada si sakit dengan mengatakan setiap penyakit pasti ada obatnya. Tujuannya agar pasien tidak stres, yang akibatnya justru mempersulit penyembuhan.

Selain itu tidak menggunakan obat-obat kimiawi. Sebab obat-obat kimiawi selalu memiliki efek samping, entah kecil atau besar. Pengobatan nabawi menggunakan obat-obat alami, yaitu tumbuhan yang mengandung satu atau lebih bahan aktif yang bisa dipergunakan untuk terapi. Di wilayah kita banyak tumbuhan yang bisa dipergunakan untuk pengobatan. Bahkan, kadangkala ada di depan mata kita, tetapi kita tidak mengetahui kemanfaatannya.

Banyak metode pengobatan Nabi yang bisa dikembangkan dan dipraktikkan. Antara lain bekam (al-hijamah) untuk membuang darah kotor yang menyebabkan timbulnya berbagai penyakit, pembuangan racun dalam tubuh yang menjadi sumber banyak penyakit, pelurusan tulang belakang sehingga gangguan kesehatan bisa diminimalkan, pembersihan dan penyeimbang suhu/udara dalam tubuh agar terjadi harmonisasi yang menyebabkan seseorang bisa hidup sehat.

Tetapi, banyak motedo pengobatan nabawi yang kini sudah dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi. Contohnya bekam, saat ini tidak lagi menggunakan tanduk, gelas kaca, atau mangkuk tinggi seperti zaman Nabi. Kini menggunakan vakum modern, berteknologi tinggi, dan diakui para dokter di rumah sakit.

”Jadi, jangan dibayangkan pengobatan nabawi itu sangat kuno dan tertinggal zaman.” (sumber suara merdeka)

Tulis sebuah Komentar