Masjid Agung Kasepuhan Cirebon : Geledek Menyapu Mahkota

Ayat suci mengalun merdu, merambati udara basah Ramadhan di Cirebon, Jawa Barat. Lantunan kalam Ilahi itu menggema dari Masjid Sang Ciptarasa, di kompleks Keraton Kasepuhan, satu-satunya kerajaan di pesisir utara Jawa yang masih berdiri.

Sepanjang Ramadhan lalu, tiap hari yang bertadarus 15-20 orang. Acaranya berlangsung di serambi belakang masjid, selepas tarawih hingga pukul 00.00. Setelah itu, masjid terasa sunyi. “Biar masyarakat sekitar bisa beristirahat untuk mempersiapkan sahur,” kata Muhammad Rifa’i, 60 tahun, muazin Masjid Kasepuhan Cirebon.

Rifa’i sudah puluhan tahun jadi penyeru ajakan salat. Ia melantunkan suaranya dari sebelah kanan ruang utama masjid. Di Masjid Cirebon memang tak ada menara seperti di Masjid Agung Demak, atau Kudus. Ini memang disengaja.

Alasannya bisa ditemui di Babad Cirebon, buku sejarah tentang Cirebon, yang diterjemahkan bangsawan keraton, Pangeran Sulaiman Sulendraningrat, pada 1984. Di situ tertulis, “Nyeng kene, ning Jawa aja tiru-tiru adat Mekkah nganggo menara, ari adat kene ning Jawa wong cilik beli kena ngungkuli, mbok kena wialat.”

Maknanya, “Di Jawa, jangan meniru adat Mekkah menggunakan menara. Di sini orang kecil dilarang duduk melebihi (raja), bisa kualat.” Terdengar dentuman Sang Guru Mangir, yang biasa juga disebut Kiai Buyut Tesbur Putih. Dua nama elok ini adalah sebutan untuk beduk di Masjid Kasepuhan Cirebon itu. Menindaklanjuti undangan salat itu, Rifa’i mengumandangkan azan.

Sang Ciptarasa, juga dikenal sebagai Masjid Agung Kasepuhan, terletak di sebelah barat Alun-alun Sangkalabuana. Atau 100 meter arah barat laut Keraton Kasepuhan Cirebon. Menurut Pangeran Wangsakerta, dalam catatan sejarahnya berjudul Pustaka Negara Kretabhumi yang disusun pada 1694, Ciptarasa didirikan Wali Songo. Pemrakarsanya adalah Sunan Gunung Jati, juga dikenal sebagai Syarif Hidayatullah.

Ada berbagai versi mengenai awal dibangunnya masjid ini. Di antaranya, menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada candrasengkala, waspada panembahe yuganing ratu. Kalimat ini bermakna 2241, alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, dibangun pada 1489 Masehi.

Pemimpin proyeknya Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit. Sunan Kalijaga dibantu Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. Sepat adalah tawanan perang Demak-Majapahit, yang diboyong Sunan Gunung Jati, salah satu senopati Demak.

Sepat merancang ruang utama masjid berbentuk bujur sangkar. Luasnya 400 meter persegi. Tempat pengimaman menghadap ke barat, miring 30 derajat arah barat laut. Arah ini diyakini warga sekitar masjid tepat menuju Masjidil Haram, Mekkah.

Masjid terbagi lima ruang, yaitu ruang utama, tiga serambi, dan ruang belakang. Ruang utama adalah bangunan masjid yang asli. Lantainya dari terakota tanah atau tembikar, berukuran 30 x 30 sentimeter. Serambi bagian selatan disebut bangsal prabayaksa, dalam bahasa Jawa kuno berarti ruang pertemuan.

Menurut Muhammad Rifa’i, serambi depan merupakan bangunan tambahan yang dibangun pada era Panembahan Ratu II, 1649-1667. Serambi itu dinamai bangsal pemandangan, berarti tempat “cuci mata”. Atapnya berbentuk limas, seperti pada kelenteng. Dari sini jamaah masjid bisa menikmati suasana alun-alun.

Ruang belakang merupakan tempat kuncen, pengurus masjid. Al-Quran dan buku-buku pelajaran agama disimpan di sini. Ruang 5 x 20 meter ini terbuka, hanya dipagari besi cokelat setinggi 2 meter.

Tata ruang masjid meniru model rumah tradisional Jawa. Ruang utama atau rumah induk, dalam tradisi Jawa disebut dalem ageng. Bilik kiri-kanan dinamai gandok kiwa dan gandok tengen. Serambi depan mewakili pendopo: tanpa dinding, dinaungi dua atap limas berjajar. Bilik belakang disebut senthong.

Ruang utama memiliki sembilan pintu, melambangkan Wali Songo. Pintu utama berukuran normal terletak di sebelah timur. Delapan lainnya, di samping kiri dan kanan, ketinggiannya kurang lebih satu meter. Ini bermakna kerendahan hati, sopan santun, dan penghormatan bagi orang lain.

Dalem ageng masjid beratap tumpang dua susun, berbentuk limas. Ini mengadopsi budaya Hindu, yang melambangkan tingkatan kehidupan. Semula, atap Masjid Cirebon berbentuk joglo dilengkapi mahkota. Namun, pada zaman Panembahan Ratu I, 1568-1649, mahkota disambar petir. Sejak itu, atapnya diubah menjadi limas. Bentuk itu bertahan hingga sekarang.

Atap limas itu disangga 12 tiang, dikenal sebagai saka rolas (12 pilar). Bahannya dari kayu jati bulat berdiameter 40 sentimeter. Satu pilar di sebelah tenggara terbuat dari potongan kayu yang disambung-sambung. Masyarakat menyebutnya saka tatal, atau tiang serpihan kayu. Tiang ini diyakini tercipta karena kesaktian Sunan Kalijaga, yang membuatnya hanya dalam satu malam.

Yang dimaksud “serpihan” tak lain adalah potongan kayu sepanjang setengah meter. Masing-masing dikaitkan, sehingga menjadi kesatuan yang kokoh. Diperlukan keterampilan pertukangan tingkat tinggi, serta kepintaran menghitung beban, untuk membuatnya.

Sunan Kalijaga memang dikabarkan memiliki keahlian merangkai potongan kayu. Untuk memperkokoh kaitan kayu, ia menggunakan lem dari getah damar. Sifatnya basah, lekat, dan tahan air. Rangkaian kayu itu kemudian diikat dengan tali ijuk. Setelah getah mengering dan keras, tali tersebut dilepas. Si “serpihan” itu pun menjadi tiang siap pakai.

Kini, di usianya yang lebih dari 500 tahun, setiap tiang harus ditopang empat pilar besi. Tiang ini juga menyangga balok yang disangga pilar utama, untuk mengurangi beban.

Bagian ruang utama yang terpenting adalah mihrab, atau tempat imam memimpin salat. Mihrab dihiasi relief khas zaman Hindu, bermotif tumbuhan berupa dedaunan, kembang teratai, dan bunga matahari. Mihrab bagian atas berbentuk lengkung. Tak meniru kubah ala Timur Tengah, melainkan mengadopsi lengkung kala makara, atau raksasa menganga, seperti di candi Hindu. Mihrab dibangun menggunakan batu-bata zaman Majapahit. Batu bata itu digosok satu sama lain sebelum dipasang, sehingga disebut bata kosod. Abu hasil gosokan digunakan sebagai adonan perekat bata.

Lengkungan ini disangga dua pilar bulat berukir. Tepat di atas pilar terdapat hiasan bunga teratai. Di atas tempat berdirinya imam menjuntai ukiran bunga teratai, menonjol ke bawah. Ukiran ini, konon, karya Sunan Kalijaga. Berdasar keterangan Keraton Kasepuhan, bunga teratai melambangkan filsafat hayyun ila ruhin, hidup tanpa roh.

Ada tiga ubin khusus di mihrab masjid. Dikabarkan dalam hikayat, ubin ini dipasang Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga. Ketiganya merupakan simbol ajaran Islam, iman, dan ihsan. Selain itu, ada mimbar khotbah kayu jati berukiran kala makara pada kaki dan puncak. Mimbar ini dibuat setelah zaman para wali.

Sekujur tembok yang mengelilingi ruang utama dari bata kosod dihiasi dekorasi dengan sistem tempel. Ukiran tersebut merupakan perpaduan motif Hindu, Jawa, dan Arab. Gerbang pintu utama dipenuhi ukiran, bermotif bunga dan daun-daunan.

Di ruang utama inilah, kabarnya, Syekh Siti Jenar diadili. Ia mendapat perkara karena mendukung Ki Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging, yang memisahkan diri dari Demak Bintoro. Bertindak sebagai jaksa, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Giri. Pengadilan itu kemudian bergeser, tak lagi politik, melainkan ke perdebatan soal aliran atau mazhab.

Syekh Siti Jenar beraliran Syiah. Sedangkan ketiga “jaksa” menganut Sunni. Terjadi debat soal agama, berbuntut caci-maki di dalam masjid. Murid Syekh Lemah Abang, alias Syekh Siti Jenar, tak terima. Mereka menyerang ketiga jaksa, namun bisa dilumpuhkan. Sidang para wali memvonis mati Syekh Siti Jenar. Syekh Siti Jenar digelandang ke Alun-alun Sangkalabuana. Ia dieksekusi Sunan Kudus.

Kini, tak ada lagi peradilan yang berlangsung dari Masjid Kasepuhan. Seiring dengan surutnya peranan politik keraton, Sang Ciptarasa dewasa ini hanya berfungsi sebagai tempat ibadah.

Tulis sebuah Komentar